YERUSALEM — Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada Ahad (12/4/2026) di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian dan unit khusus Israel. Aksi ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi kekerasan di wilayah Tepi Barat.
Otoritas Wakaf Islam di Yerusalem yang dikelola Yordania melaporkan bahwa Ben-Gvir masuk ke area Al-Aqsa bersama sejumlah kelompok pemukim yang mereka sebut sebagai kelompok ekstremis. Selama berada di dalam kompleks, kelompok tersebut dilaporkan menjalankan ritual doa Talmud.
Rekaman video yang beredar memperlihatkan Ben-Gvir berada di sekitar area Kubah Shakhrah. Ia tampak bernyanyi, bertepuk tangan, serta melakukan ritual keagamaan sebelum bergerak ke bagian barat kompleks.
Pihak otoritas Yerusalem mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai provokasi baru yang dinilai sebagai bagian dari upaya mengubah status quo di kawasan suci itu, termasuk mendorong pembagian waktu dan ruang ibadah secara sepihak.
Pembatasan dan Penangkapan di Yerusalem
Dalam pernyataan terpisah, otoritas setempat juga menyoroti meningkatnya pelanggaran terhadap situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem Timur. Pembatasan akses terhadap jamaah Palestina dilaporkan masih terus berlangsung.
Pada hari yang sama, seorang petugas kebersihan Masjid Al-Aqsa, Raed Zughair, turut diamankan oleh aparat Israel.
Kunjungan terbaru ini menambah daftar kehadiran Ben-Gvir di kompleks Al-Aqsa. Sepanjang 2026, ia tercatat telah tiga kali memasuki kawasan tersebut, dan sejak Oktober 2023 jumlahnya mencapai 13 kali. Secara keseluruhan, ia telah 16 kali mengunjungi Al-Aqsa sejak menjabat pada akhir 2022.
Sebelumnya, pada 6 April 2026, Ben-Gvir juga memasuki kompleks tersebut saat perayaan Paskah Yahudi, di tengah pembatasan ketat terhadap jamaah Muslim dengan alasan situasi darurat.
Penggusuran di Silwan
Di wilayah lain Yerusalem, tekanan terhadap warga Palestina juga terus terjadi. Otoritas Israel dilaporkan memaksa seorang warga, Mahmoud Al-Tawil, untuk membongkar rumahnya sendiri di kawasan Al-Shiyah, Silwan.
Rumah seluas sekitar 120 meter persegi itu telah berdiri selama 10 tahun dan dihuni bersama istri serta empat anaknya. Pembongkaran dilakukan dengan alasan tidak memiliki izin bangunan dari otoritas Israel.
Korban Luka dan Penangkapan di Tepi Barat
Sementara itu, situasi di Tepi Barat dilaporkan semakin memanas. Sedikitnya tujuh warga Palestina mengalami luka akibat tembakan aparat Israel, sementara sekitar 17 hingga 18 orang lainnya ditangkap dalam operasi militer di berbagai wilayah.
Di kota Al-Ram, utara Yerusalem, tiga warga dilaporkan terluka saat pasukan Israel melakukan penggerebekan dengan menggunakan granat kejut dan gas air mata. Enam orang ditangkap dalam operasi tersebut.
Penggerebekan juga terjadi di desa Al-Sawahra, tenggara Yerusalem, dengan dua warga diamankan setelah rumah-rumah digeledah.
Di wilayah selatan Tepi Barat, tepatnya di Adh-Dhahiriya, Hebron, dua pemuda dilaporkan terluka akibat tembakan. Sementara di Kota Tua Nablus, seorang anak berusia 14 tahun tertembak di bagian paha, dan seorang pria berusia 39 tahun mengalami luka di kepala akibat serpihan peluru.
Kantor Berita Palestina, WAFA, turut melaporkan operasi penangkapan di sejumlah wilayah lain, termasuk Bethlehem, Hebron, Jericho, dan Nablus, dengan total sembilan warga Palestina ditahan.
Ketegangan Terus Meningkat
Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan meningkatnya ketegangan di Yerusalem dan Tepi Barat, seiring berlanjutnya pembatasan, penggerebekan, serta aktivitas militer yang terus berlangsung di wilayah Palestina yang diduduki.
Sumber: WAFA (Palestine News Agency)




