GAZA — Serangan udara militer Israel kembali mengguncang Jalur Gaza pada Minggu, 17 Mei 2026. Sedikitnya enam warga Palestina dilaporkan tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka dalam rangkaian serangan yang terjadi di beberapa wilayah, meski status gencatan senjata masih diberlakukan.
Sumber medis di Gaza menyebut, tiga korban tewas berasal dari Kota Deir al-Balah, Gaza tengah, setelah sebuah drone Israel menghantam pusat distribusi makanan di dekat Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa. Serangan itu disebut menyebabkan kepanikan warga dan menghancurkan area bantuan kemanusiaan yang digunakan masyarakat sipil.
Di wilayah Khan Younis, Gaza selatan, serangan drone Israel kembali menargetkan sekelompok warga. Sedikitnya satu orang dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami luka-luka. Serangan lain di kawasan yang sama juga menyebabkan korban tambahan di tengah situasi yang terus memanas.
Sementara itu, seorang warga Palestina dilaporkan meninggal dunia akibat tembakan pasukan Israel di kawasan Zeitoun, tenggara Kota Gaza. Serangan drone lainnya di Tel al-Hawa, dekat Rumah Sakit Al-Quds, turut menyebabkan sedikitnya sembilan orang terluka.
Israel Perluas Wilayah Kontrol Militer
Situasi di Gaza semakin memburuk setelah kendaraan militer Israel dilaporkan memasuki wilayah Bani Suheila, sebelah timur Khan Younis, sejak Minggu dini hari. Saksi mata menyebut kendaraan lapis baja dan buldoser militer bergerak sambil melepaskan tembakan artileri dan merobohkan sejumlah bangunan warga.
Warga setempat juga melaporkan bahwa pasukan Israel mendorong blok beton penanda “Yellow Line” lebih jauh ke arah barat. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya memperluas area yang berada di bawah kendali militer Israel di Jalur Gaza.
Akibat eskalasi terbaru ini, sejumlah keluarga kembali mengungsi menuju wilayah tengah dan barat Khan Younis demi menghindari serangan lanjutan. Kondisi kemanusiaan di Gaza disebut semakin memprihatinkan di tengah terbatasnya akses bantuan dan fasilitas kesehatan.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 72 ribu warga Palestina dilaporkan tewas sejak perang pecah pada Oktober 2023, mayoritas perempuan dan anak-anak. Bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025, ratusan korban masih terus berjatuhan akibat serangan lanjutan.




