Gaza Menghadapi Musim Dingin di Tengah Krisis Hunian, Jutaan Warga Terancam Hujan dan Banjir

Gaza Menghadapi Musim Dingin di Tengah Krisis Hunian, Jutaan Warga Terancam Hujan dan Banjir

GAZA — Musim dingin kembali mendekat ke Jalur Gaza ketika sebagian besar warga Palestina masih hidup dalam kondisi pengungsian dan keterbatasan tempat tinggal. Tenda yang telah lama digunakan, bangunan yang mengalami kerusakan, serta buruknya sistem drainase membuat hujan dan suhu dingin berpotensi menjadi ancaman baru bagi keluarga yang tidak memiliki tempat aman untuk berlindung.

UNICEF dalam rencana respons musim dingin 2026–2027 menyebut hampir 84 persen penduduk Gaza, atau lebih dari 1,76 juta orang, masih tinggal di lokasi pengungsian yang padat atau tempat berlindung yang rusak dan tidak memadai. Kondisi tersebut membuat mereka memiliki perlindungan yang sangat terbatas dari suhu dingin, hujan deras, dan banjir.

Bagi banyak keluarga, persiapan menghadapi musim hujan bukanlah memperbaiki tempat tinggal secara menyeluruh. Mereka hanya berusaha mempertahankan apa yang masih tersisa—menutup bagian tenda yang robek, memperkuat tali dan pasak, meninggikan barang-barang dari permukaan tanah, atau menutup celah pada bangunan yang rusak.

Masalahnya, langkah-langkah tersebut tidak selalu mampu memberikan perlindungan yang memadai.

Tenda Darurat yang Dipakai Bertahun-Tahun

Tenda yang semula diperuntukkan sebagai tempat berlindung sementara kini telah menjadi rumah bagi banyak keluarga selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Kementerian Pembangunan Sosial Palestina memperingatkan pada 22 September bahwa paparan terus-menerus terhadap panas, matahari, angin dan hujan, ditambah proses pembongkaran serta pemindahan berulang, telah membuat banyak tenda kehilangan kemampuan untuk memberikan perlindungan yang layak.

Kondisi ini menjadi semakin berbahaya ketika hujan turun di kawasan pengungsian yang tidak memiliki drainase memadai.

Air dapat masuk ke dalam tenda, merendam kasur dan pakaian, merusak persediaan makanan serta obat-obatan, bahkan menciptakan kondisi yang meningkatkan risiko penyakit.

UNICEF memperingatkan bahwa banjir berulang juga dapat mengganggu akses warga terhadap layanan kesehatan, air bersih dan kebutuhan dasar lainnya. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap dampak cuaca dingin.

Lebih dari 1,76 Juta Orang Tinggal di Tempat yang Tidak Memadai

Besarnya persoalan tempat tinggal membuat persiapan musim dingin di Gaza tidak bisa dipandang sebagai persoalan penyediaan selimut semata.

Menurut UNICEF, sekitar 1,76 juta orang di Gaza saat ini berada di lokasi pengungsian padat atau tempat tinggal yang rusak dan tidak layak. Mereka menghadapi kombinasi risiko berupa suhu rendah, hujan deras, banjir, penyakit pernapasan, serta penyakit yang berkaitan dengan air dan sanitasi.

UNICEF menyatakan sedikitnya 11 anak, termasuk bayi, dilaporkan meninggal akibat hipotermia selama musim dingin sebelumnya di Gaza.

Untuk musim dingin 2026–2027, UNICEF meminta pendanaan sebesar US$97,5 juta untuk membantu melindungi sekitar 540 ribu anak dan keluarga mereka di Gaza dan Tepi Barat dari cuaca ekstrem dan gangguan layanan dasar.

Rumah Rusak Juga Menjadi Ancaman

Tidak semua keluarga tinggal di tenda.

Sebagian warga memilih atau terpaksa bertahan di bangunan yang mengalami kerusakan karena tidak memiliki alternatif tempat tinggal yang lebih aman.

Data UNOSAT yang dikutip OCHA menunjukkan bahwa hingga 16 Juni 2026, sekitar 201.290 bangunan di Gaza, atau sekitar 82 persen dari seluruh struktur, telah mengalami kerusakan. Jumlah tersebut mencakup bangunan yang hancur, rusak berat, rusak sedang maupun kemungkinan mengalami kerusakan. Sekitar 328.627 unit rumah juga dilaporkan terdampak.

Kondisi itu membuat datangnya musim hujan menambah persoalan baru.

Pada 24 September, Kementerian Pembangunan Sosial Palestina memperingatkan bahwa sekitar 2.000 bangunan dan unit hunian berada dalam risiko runtuh. Diperkirakan sekitar 20.000 orang masih tinggal di bangunan-bangunan tersebut karena tidak memiliki alternatif hunian yang aman.

Hujan deras dan angin kencang dapat memperbesar tekanan terhadap struktur bangunan yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan.

Dengan demikian, sebagian keluarga Gaza menghadapi pilihan yang sama-sama sulit: tinggal di tenda yang tidak mampu melindungi mereka dari hujan dan dingin, atau bertahan di bangunan yang berpotensi membahayakan keselamatan.

Risiko Bukan Hanya Air dan Udara Dingin

Musim dingin di Gaza juga berkaitan erat dengan kondisi infrastruktur.

Drainase air hujan yang tidak memadai, sistem sanitasi yang rusak, tumpukan sampah, genangan air dan terbatasnya fasilitas kesehatan dapat memperburuk dampak cuaca buruk.

Kementerian Pembangunan Sosial Palestina menyebut sejumlah lokasi pengungsian masih menghadapi persoalan drainase, sanitasi, genangan air limbah, kepadatan, serta meningkatnya risiko serangga dan hewan pengerat.

Ketika air memasuki tempat pengungsian, persoalan tidak berhenti pada basahnya lantai.

Pakaian, selimut, kasur, makanan, obat-obatan dan barang penting keluarga dapat ikut rusak. Pada saat yang sama, air yang tercemar dapat meningkatkan risiko penyakit.

Karena itu, penanganan musim dingin membutuhkan lebih dari sekadar distribusi perlengkapan penghangat.

Korban Hipotermia Sudah Terjadi

Ancaman suhu dingin bukan sekadar perkiraan.

Kementerian Pembangunan Sosial Palestina menyebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendokumentasikan sedikitnya 19 kematian yang berkaitan dengan hipotermia selama dua musim dingin terakhir di Gaza. Angka tersebut tidak mencakup kemungkinan kasus pada musim dingin pertama perang yang tidak terdokumentasi oleh badan-badan PBB.

Bayi dan anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan karena kemampuan tubuh mereka dalam mengatur suhu lebih terbatas dibandingkan orang dewasa.

Risiko juga meningkat bagi lansia, penyandang disabilitas, orang yang terluka, serta warga yang memiliki penyakit kronis.

Persiapan Harus Dilakukan Sebelum Hujan Turun

Kementerian Pembangunan Sosial Palestina menyerukan agar persiapan dilakukan sebelum cuaca buruk tiba.

Langkah yang dibutuhkan mencakup penggantian tenda yang sudah tidak layak, penyediaan tempat tinggal sementara yang lebih kuat, distribusi terpal dan bahan isolasi, kasur, selimut serta pakaian musim dingin.

Lokasi pengungsian juga membutuhkan perbaikan drainase, pembersihan saluran air, penanganan limbah dan sampah, serta pengendalian serangga dan hewan pengerat. Fasilitas air, sanitasi dan kesehatan juga memerlukan bahan bakar, generator, suku cadang dan peralatan agar tetap dapat beroperasi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa juga memperingatkan bahwa stok perlengkapan tempat tinggal dan barang kebutuhan nonpangan telah menipis, sementara akses terhadap sejumlah kebutuhan kemanusiaan dan pendanaan masih menjadi kendala. Dalam laporan September 2026, UNSCO menyebut 2026 Flash Appeal baru sekitar 40 persen terpenuhi.

Musim Dingin Kembali Menguji Gaza

Bagi masyarakat Gaza, musim dingin 2026–2027 datang ketika persoalan tempat tinggal belum terselesaikan.

Tenda yang seharusnya hanya menjadi tempat perlindungan sementara telah digunakan jauh lebih lama dari masa yang dirancang. Di sisi lain, banyak keluarga tinggal di bangunan yang rusak karena tidak mempunyai tempat lain untuk dituju.

Hujan deras dapat berarti lebih dari sekadar pakaian basah. Bagi keluarga yang tinggal di tenda, air dapat merusak tempat tidur dan persediaan kebutuhan sehari-hari. Bagi mereka yang bertahan di bangunan rusak, hujan dan angin dapat menambah risiko terhadap struktur yang sudah rapuh.

Karena itu, tantangan Gaza menjelang musim dingin bukan hanya bagaimana menjaga tubuh tetap hangat.

Ini adalah persoalan tentang tempat tinggal, air bersih, sanitasi, kesehatan, keselamatan dan perlindungan bagi keluarga yang masih belum memiliki ruang aman untuk hidup.

Waktu untuk melakukan persiapan semakin terbatas.

Dan bagi jutaan warga yang masih hidup dalam pengungsian, pertanyaan terpenting menjelang musim hujan bukan sekadar kapan hujan akan turun, tetapi apakah tempat mereka berlindung masih mampu melindungi mereka ketika hujan benar-benar datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berlangganan Newsletter Kami

Dapatkan informasi terbaru tentang program sosial, laporan dampak, dan cerita inspiratif langsung ke kotak masuk Anda.

Logo Al Majdi Baru
Al Majdi Indonesia adalah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat. Kami hadir sebagai wadah amanah untuk menyalurkan donasi Anda secara transparan, tepat sasaran, dan sesuai prinsip syariah.

Kantor Pusat:
Jalan Amal No. 70, Kec. Medan Sunggal,
Kota Medan, Sumatera Utara, 20127
Telp / SMS / WhatsApp: 0851-6739-8766
Mail: almajdiindonesiaglobalrelief@gmail.com

NAVIGASI

REKENING DONASI & KONFIRMASI

  • BSI 7295305497
  • BRI 109101000831560
  • Contact Admin 1 (WA only)
    0813-6026-6468
  • Contact Admin 2 (WA only)
    0821-6422-8882

a.n Al Majdi Indonesia Global Relief

IKUTI KAMI

Bantu terus misi kemanusiaan kami:

Dana yang didonasikan melalui Al Majdi Indonesia dimiliki secara penuh dan bukan bersumber dari dana yang tidak halal dan bukan untuk tujuan pencucian uang (money laundry), termasuk terorisme maupun tindak kejahatan lainnya

PRIVACY POLICY

TERM AND CONDITIONS

© 2025 Al Majdi Indonesia