Beirut, Lebanon — Konflik antara Israel dan Lebanon kembali memanas. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 2.702 orang tewas dan 8.311 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak 2 Maret hingga 5 Mei 2026.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa (5/5), Kemenkes Lebanon menyebut enam warga kembali menjadi korban tewas dalam serangan terbaru di wilayah Lebanon selatan. Serangan udara Israel dilaporkan menghantam sejumlah kota, termasuk kawasan pinggiran kota Tyre.
Di tengah meningkatnya eskalasi, kelompok Hizbullah mengklaim telah melancarkan sedikitnya 12 operasi tempur terhadap pasukan Israel di wilayah perbatasan.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sepakat melakukan gencatan senjata selama 10 hari yang kemudian diperpanjang hingga tiga pekan.
Namun, meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan, serangan udara dan artileri Israel dilaporkan masih terus berlangsung hampir setiap hari di Lebanon selatan. Situasi ini memicu balasan dari Hizbullah dan membuat ketegangan di kawasan kembali meningkat.
Konflik berkepanjangan ini memperburuk kondisi kemanusiaan di Lebanon, dengan ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan hidup dalam ancaman serangan yang terus berulang.




