GAZA — Militer Israel mengonfirmasi bahwa foto yang memperlihatkan seorang tawanan Palestina dalam kondisi terikat dan ditutup matanya adalah dokumentasi asli yang diambil di Jalur Gaza. Pengakuan tersebut muncul setelah gambar itu beredar luas di media sosial dan memicu kecaman dari berbagai pihak.
Dalam foto tersebut, seorang pria Palestina tampak telungkup dengan kedua tangan terikat, mata ditutup kain, serta sebatang pipa logam diikatkan di punggungnya. Kondisi korban memunculkan tudingan adanya perlakuan yang merendahkan martabat dan tidak manusiawi terhadap tahanan.
Menurut laporan yang dikutip Radio Militer Israel, juru bicara militer menyatakan bahwa gambar tersebut memang berasal dari Gaza. Pihak militer mengatakan penyelidikan internal telah dimulai untuk menelusuri kronologi kejadian serta mengidentifikasi personel yang terlibat.
Meski demikian, militer belum mengungkapkan waktu maupun lokasi pasti insiden tersebut terjadi.
Kasus ini mencuat setelah foto itu diduga diunggah oleh seorang prajurit Israel melalui akun media sosial pribadinya. Unggahan tersebut kemudian dihapus, namun salinannya telah lebih dahulu tersebar luas dan menjadi sorotan publik internasional.
Organisasi veteran militer Israel Breaking the Silence turut mengecam keras beredarnya foto tersebut. Dalam pernyataannya, organisasi itu menilai perlakuan terhadap tawanan Palestina yang terlihat dalam gambar tersebut merupakan tindakan yang merendahkan martabat manusia.
Kelompok tersebut juga menyebut bahwa berbagai laporan mengenai kekerasan terhadap tahanan Palestina telah berulang kali muncul dalam beberapa tahun terakhir. Menurut mereka, kasus yang kini menjadi perhatian publik hanyalah salah satu dari sejumlah dugaan pelanggaran yang pernah dilaporkan.
Sejak Oktober 2023, lembaga-lembaga hak asasi manusia Palestina melaporkan bahwa lebih dari 100 warga Palestina meninggal dunia setelah menjalani penahanan di Israel. Sementara itu, data terbaru menyebut sekitar 9.500 warga Palestina masih berada di berbagai fasilitas penahanan Israel, termasuk perempuan, anak-anak, dan tahanan administratif yang ditahan tanpa proses peradilan.
Laporan mengenai kondisi para tahanan tersebut terus menjadi perhatian organisasi hak asasi manusia internasional yang menyerukan penyelidikan independen terhadap dugaan pelanggaran yang terjadi selama masa penahanan.




